JUDUL BUKU: Warekma – Ritual Kematian Suku Hubula – Balim, Kabupaten Jayawilaya, Provinsi Pegunungan I PENULIS: Alpius Wetipo I PENRBIT: Altheras Publishing (2026) I TEBAL BUKU: 102 halaman
=========================
Buku Warekma karya Alpius Wetipo bukan sekadar catatan tentang adat dan budaya masyarakat Hubula-Balim. Buku yang diterbitkan oleh Altheras Publishing ini lahir dari kerinduan seorang anak adat untuk mengenal kembali akar budayanya, merawat ingatan kolektif, sekaligus mewariskan pengetahuan leluhur kepada generasi berikutnya.
Kerinduan itu menjadi penting di tengah perubahan zaman yang terus bergerak. Selama berabad-abad, pengetahuan adat dan budaya Hubula hidup melalui cerita, nasihat, pengalaman, serta ingatan para orang tua dan tetua adat. Pewarisan berlangsung secara lisan, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun, tradisi lisan menghadapi tantangan ketika sebagian pengetahuan semakin jarang diceritakan, sementara tidak semuanya terdokumentasikan secara tertulis. Dalam situasi seperti inilah buku Warekma menemukan relevansinya.
Alpius Wetipo, sebagai bagian dari masyarakat Hubula-Balim, tidak ingin warisan leluhur hanya tinggal sebagai ingatan yang perlahan memudar. Ia berupaya merekamnya dalam tulisan agar pengetahuan budaya tersebut dapat dibaca, dipelajari, dan diwariskan kembali.
Menulis dari dalam kebudayaan
Salah satu hal menarik dari Warekma adalah titik berangkat penulisannya. Alpius tidak semata-mata ingin memperkenalkan kebudayaan Hubula kepada pembaca, tetapi juga menghadirkan kebudayaan itu melalui pandangan dan pengalaman masyarakat pemiliknya sendiri.
Pilihan ini memiliki arti penting. Kebudayaan suatu masyarakat tidak cukup dipahami hanya melalui pengamatan orang luar. Di balik praktik adat, simbol, tradisi, dan kebiasaan, terdapat nilai serta cara pandang yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat itu sendiri.
Karena itu, upaya Alpius mendokumentasikan kebudayaan Hubula-Balim merupakan ikhtiar untuk menghadirkan suara dari dalam komunitas. Ia ingin agar adat dan budaya tidak sekadar menjadi objek pembicaraan, melainkan dipahami dengan menghargai nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakatnya.
Dalam konteks ini, Warekma dapat dibaca sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Buku ini juga menjadi ungkapan terima kasih kepada para orang tua dan tetua adat yang telah menjaga pengetahuan budaya, merawatnya dalam kehidupan sehari-hari, dan meneruskannya kepada generasi penerus.
Bahasa ringan, pesan yang mendalam
Salah satu kelebihan buku ini terletak pada gaya penulisannya yang ringan dan mudah dipahami. Pilihan bahasa semacam ini membuka peluang bagi pembaca dari berbagai kalangan untuk mendekati pengetahuan budaya tanpa harus berhadapan dengan uraian yang terlalu rumit.
Kesederhanaan bahasa tidak mengurangi pentingnya pesan yang hendak disampaikan. Sebaliknya, bahasa yang mudah dipahami dapat menjadi jembatan antara pengetahuan yang diwariskan para leluhur dan generasi muda yang hidup dalam lingkungan sosial yang terus berubah.
Bagi generasi muda Hubula-Balim, buku ini menawarkan kesempatan untuk mengenal kembali warisan budaya mereka melalui tulisan yang berasal dari lingkungan masyarakatnya sendiri. Mereka tidak hanya diharapkan mengetahui bahwa tradisi itu ada, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya serta alasan mengapa warisan tersebut layak dijaga.
Pengenalan terhadap budaya sendiri juga berkaitan erat dengan pembentukan identitas. Seseorang yang memahami asal-usul dan warisan leluhurnya memiliki pijakan untuk mengenali dirinya di tengah perjumpaan dengan berbagai kebudayaan lain. Dengan demikian, kebanggaan terhadap identitas Hubula-Balim tidak harus berhadapan dengan perubahan zaman. Keduanya dapat berjalan bersama selama warisan budaya tetap dipahami dan dirawat.
Sebuah langkah awal yang berarti
Alpius Wetipo menyadari bahwa Warekma belum sempurna. Ia tidak menempatkan bukunya sebagai karya yang telah menuntaskan seluruh upaya dokumentasi kebudayaan Hubula. Sebaliknya, buku ini dipandang sebagai langkah awal untuk mencatat lebih banyak lagi warisan budaya pada masa mendatang.
Kesadaran tersebut patut diapresiasi. Dokumentasi kebudayaan merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan ketekunan, keterlibatan masyarakat, serta kesediaan untuk terus belajar dari para pemilik pengetahuan adat.
Buku ini sekaligus mengingatkan bahwa menjaga kebudayaan bukan hanya tanggung jawab satu orang penulis. Para tetua adat, tokoh masyarakat, keluarga, generasi muda, dan berbagai pihak lainnya memiliki peran penting dalam memastikan pengetahuan leluhur tetap hidup. Tulisan dapat menjadi sarana untuk menyimpan dan menyebarluaskan pengetahuan, tetapi keberlanjutan budaya juga bergantung pada praktik, pemahaman, dan pewarisannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai sebuah dokumentasi awal, Warekma dapat menjadi pijakan untuk pekerjaan yang lebih luas: memperkaya catatan tentang adat dan budaya Hubula-Balim, menghimpun pengetahuan dari para tetua adat, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian warisan leluhur.
Tentu, penilaian menyeluruh terhadap kedalaman pembahasan, ketepatan dokumentasi, dan kelengkapan materi buku ini memerlukan pembacaan langsung terhadap keseluruhan isinya. Namun, dari semangat yang mendasari penulisannya, tampak bahwa Warekma membawa misi yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan sebuah buku.
Pada akhirnya, Warekma mengajak pembaca memahami bahwa kebudayaan bukan semata-mata peninggalan masa lalu. Kebudayaan adalah ingatan tentang asal-usul, kumpulan nilai yang membentuk kehidupan bersama, sekaligus warisan yang menuntut tanggung jawab untuk diteruskan.
Melalui buku ini, Alpius Wetipo berusaha menjaga agar pengetahuan leluhur Hubula-Balim tidak berhenti pada cerita yang didengar dari generasi sebelumnya. Ia berupaya memberinya tempat dalam tulisan agar dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi sesudahnya.
Sebuah ikhtiar yang sederhana dalam bentuk, tetapi bermakna dalam tujuannya: merawat ingatan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai apa yang diwariskan kepada kita. (RED)
