JUDUL BUKU: Menulis Feature Memikat, Merekam Denyut Nadi Manusia I PENULIS: Emanuel Dapa Loka / PENYUNTING: Celestino Reda / PENERBIT: Altheras Publishing (2026) / TEBAL BUKU: 159 halaman
————————————————————-
Seperti dikatakan penulis pada Kata Pengantar, buku ini lahir dari dua hal yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan perjalanan seorang penulis, yakni rasa kagum dan kegelisahan.
Penulis kagum pada tulisan-tulisan feature yang mengalir jernih, memikat pembaca tanpa terasa menggurui, serta menyentuh kesadaran melalui fakta-fakta yang kuat. Lalu gelisah, karena tulisan semacam itu tidak lahir begitu saja; ia membutuhkan kepekaan, ketekunan, dan kesediaan untuk menyelami kehidupan lebih dalam daripada sekadar permukaan peristiwa.
Di matanya,—feature membedakan dirinya cerpen yang bertumpu pada imajinasi. Feature berpijak pada kenyataan atau fakta yang diramu sedemikian rupa, dengan standar penulisan yang benar menjadi memikat, enak dibaca namun selalu berpijak pada fakta.
Penulisan feature menghadapi tantangan: bagaimana menghadirkan fakta menjadi hidup, bernapas, dan menggugah. Karena itu feature sering disebut sebagai jurnalisme yang bercerita—sebuah bentuk penulisan yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengajak pembaca masuk ke dalam pengalaman manusia yang nyata.
Buku ini disusun bukan untuk menjejali pembaca dengan teori-teori panjang tentang jurnalistik, melainkan untuk menemani proses belajar bersama secara praktis. Penulis percaya bahwa kemampuan menulis feature tidak tumbuh secara instan.
Menurut Emanuel Dapa Loka, para featuturist andal seperti Gunawan Muhammad, Rosihan Anwar, Sindhunata lahir melalui perjalanan panjang: membaca, mengamati, mendengar, merasakan, lalu terus menulis. Lalu kembali lagi membaca, mengamati, mendengar, merasakan, lalu terus menulis. Karena itu buku ini lebih memilih menjadi teman latihan daripada sekadar buku ajar.
Melalui buku ini penulis mengajak pembaca diajak memahami bagaimana sebuah feature dirancang, dibangun, dan dihidupkan. Tidak hanya agar menghasilkan tulisan yang enak dibaca, tetapi juga tulisan yang mampu menggerakkan—membangkitkan empati, kesadaran, bahkan tindakan.
Bagi penulis, menulis feature bukan sekadar keterampilan teknis. Ia adalah cara memandang manusia dan kehidupan dengan lebih utuh. Karenan, dalam buku ini ditekankan bahwa feature harus ”berangkat dari manusia dan bermuara pada manusia”.
Semoga buku ini menjadi langkah kecil yang berguna bagi siapa pun yang ingin belajar menulis dengan hati, dengan kedalaman, dan dengan keberpihakan pada yang kecil, lemah dan tak berdaya. Di sinilah, jurnalisme harus berpihak.
